Profil Tokoh Wayang
Profil Tokoh Wayang
Basukarna:
Mengorbankan Diri Demi Tegaknya Keadilan dan Kebenaran
Oleh
Sugiarso
Pemerhati Pewayanagan
Salah satau tokoh dunia pewayangan yang terkenal adalah Basukarna. Ia adalah anak Dewa Surya dengan Dewi Kunthi lewat hubungan gelap. Saat itu Dewi Kunti, anak bungsu Basudewa, Raja Mandura, memperoleh mantra Adityahredaya yang bila dibaca bisa mendatangkan siapapun yang ingin didatangkan dan tidak kembali sebelum memberikan yang diminta Dewi Kunti. Dewi Kunti sangat kagum akan kehebatan matahari sehingga dia membaca mantra untuk memanggil Dewa Surya tersebut.
Singkat kata, hubungan gelap terjadi sampai dengan kehamilan Dewi Kunti. Merasa dirinya masih perawan, tetapi sudah hamil, timbul kebingungan sehingga berupaya agar kehamilan dan kelahiran anaknya tidak diketahui oleh orang lain. Dengan bantuan Dewa Surya, anak tersebut lahir lewat telinga sehingga dinamakan Karna, atau Basukarna atau Basusena. Dia dinamakan juga Suryatmaja, artinya anak Dewa Surya.
Dewi Kunti lalu memasukkan bayi tersebut ke dalam kendhaga (kotak berukir) dihanyutkan di sungai (seperti kisah Nabi Musa yang dihanyutkan oleh ibunya). Bayi ini ditemukan oleh seorang kusir bernama Adirata. Bayi tersebut kemudian menjadi anak angkat kusir Adirata. Singkat kata, Suryatmaja tumbuh menjadi pemudah yang tampan dan pandai olah kanuragan, khususnya memanah.
Pada suatu acara yang bernama ”Pendadaran Siswa Sokalima”, yakni arena adu ketangkasan antar sesama murid Resi Drona, yakni antara Kurawa dan Pandhawa, disepakati bahwa hanya kasta Satriya yang bisa ikut acara tersebut. Kusir Adirata adalah kusir istana Astina, di mana yang menjadi raja saat itu adalah Duryodana, sulung Kurawa. Duryodana sudah sering mendengar keahlian memanah anak Adirata ini. Melihat acara tersebut Karna sangat berminat ikut acara tersebut untuk menguji kekuatan olah kanuragannya, tetapi pihak Pandawa tidak setuju karena Karna bukan kelompok Satriya.
Melihat hal itu, Duryodana segera tanggap dan seketika juga mengangkat Karna menjadi raja Awangga dengan gelar Adipati Karna. Awangga adalah daerah jajahan Astina. Dengan diangkatnya Karna menjadi raja Awangga, maka dia bisa ikut mengikuti acara terebut karena telah naik aksta menjadi kasta Satriya. Sejak saat itu Basukarna menjadi raja bawahan dan senapati Astina. Demikianlah episode hidupnya berlalu sampai datangnya masa menjelang perang Bharatayudha.
Dalam lakon ”Kresna Duta”, yakni ketika Kresna menjadi duta Pandhawa untuk meminta kembali negeri Astina dari tangan Kurawa secara baik-baik, kisah heroik dan filosofis Karna ini terjadi. Pada saat itu, dengan disaksikan oleh 4 dewa tingkat tinggi, yakni Bathara Naradha, Janaka, Kanwa, dan Parasurama, perundingan antara Kresna dan Kurawa dimulai. Kisah heroik dan filosofis ini saya ambil sanggit dari Ki Nartasabdha dengan penyesuaian di sana-sini.
Di pihak Kurawa yang hadir adalah Prabu Duryudana sebagai ketua delegasi, Patih Sangkuni, Begawan Drona, Resi Bhisma, Prabu Salya dari Mandaraka, dan senapati Astina Adipati Karna. Dari pihak Pandawa hanya Kresna sendiri, didampingi Setyaki yang menunggu di luar pendhapa.
Prabu Kresna menyampikan maksud kedatangannya sebagai duta Pandawa yang terakhir untuk meminta kembali Astina. Mendengar permintaan itu, Prabu Duryodana bingung. Lalu dia minta pendapat kepada Sangkuni, Resi Drona, Resi Bhisma, dan Prabu Salya. Menurut Sangkuni, Astina tidak bisa diserahkan ke Pandawa harus tetap menjadi milik Kurawa apapun taruhannya. Resi Drona berpendapat agar Astina dipecah-pecah dan dibagi-bagi untuk Pandhawa dan Kurawa. Resi Bhisma berpendapat agar Astina dibagi menjadi 2 sama besar untuk Pandawa dan Kurawa. Sementara itu, Prabu Salya meminta agar seluruh Astina dikembalikan ke Pandawa.
Mendengar pendapat Prabu Salya, Duryodana tidak bisa memahami alur pikir Prabu Salya. Melihat hal itu, Prabu Salya tanggap dan mengatakan, “Anak Prabu bingung kalau semua diserahkan ke Pandawa lalu Kurawa tinggal di mana? Jangan kawatir Anak Prabu, saya sudah tua, sudah bosan menjadi raja Mandaraka, anak-anak saya sudah punya istana sendiri-sendiri. Bila Astina diserahkan Pandawa seluruhnya, maka saya iklas Mandaraka saya serahkan sepenuhnya kepada Anak Prabu dan saya akan ke Gunung menjalani kehidupan sebagai Resi.”
Mendengar ucapan Prabu Salya tersebut, walaupun tidak diminta pendapat, Adipati Karna langsung menanggapi dengan sinis,“Yayi Prabu, selama saya hidup tidak ada orang yang dengan gampangnya menyerahkan apa yang dimiliki begitu saja. Apalagi ini negara. Saya tidak percaya dengan ucapan orang tua tersebut. Janganlah Yayi Prabu berkecil hati dalam mempertahankan Astina. Selagi Adipati Karna masih ada, Pandawa tidak akan bisa mengambil Astina sebelum melangkahi mayat Karna. Saya akan bela Astina sampai titik darah penghabisan”.
Mendengar ucapakan Adipati Karna tersebut, yang sebenarnya masih menantunya sendiri, Prabu Salya langsung terbakar emosinya. “He orang yang sok jagoan, merasa sakti sendiri di dunia, orang yang tidak punya tatakrama, jangan cuma omonganmu yang seperti geledek. Ayo tunjukkan dengan perang tanding melawan saya. Jangan dikira karena saya sudah tua tidak mampu merobek mulutmu yang lancang itu”. Melihat situasi itu, Prabu Duryodana segera turun dari takhta dan menahan kemarahan Prabu Salya. Sementara Adipati Karna langsung ke luar dari Pendhapa.
Singkat cerita, misi Kresna gagal total karena Duryodana tetap kukuh tidak mau mengembalikan Astina kepada Pandhawa. Dengan hal itu, maka perang besar antar darah Bharata akan terjadi, yakni Perang Bharatayuda.
Sementara itu, Adipati Karna yang keluar dari pendapa langsung menuju ke tempat Raden Yamawidura, adik Destarasta di kasatriyan Panggombakan. Di sana dia menemui ibunya, Dewi Kunti. terjadilah dialog yang luar biasa.
Dewi Kunthi: “Anakku, Ibu sadar bahwa Ibu melakukan kesalahan kepadamu. Ibu telah menyia-nyiakan kepadamu. Ibu mementingkan diri sendiri. Dan betapa bahagianya hari ini, anakku telah telah memanggil aku “Ibu”. Sungguh, kebahagian yang tiada tara”.
Karna: “Kanjeng Ibu, Ananda memang anak yang tidak berguna, membuat malu Ibu, mencoreng muka seluruh kerabat istana Mandura. Tapi ijinkah saya menyampaikan sungkem saya lepada Ibu untuk yang terakhir kali”
Dewi Kunthi, “Anakku, jangan kau katakana seperti itu. Marilah bergabung dengan Pandawa. Anakku adalah anak sulung. Mereka akan memuliakanmu dan memberikan yang terbaik untukmu. Bergabunglah anakku. Berilah kesempatan kepada Ibu untuk menebus dosa-dosa Ibu”.
Karna, ”Maaf Ibu, saya tidak bisa bergabung dengan Pandhawa, saya akan bergabung dengan Kurawa dan akan saya bunuh adik-adik saya Pandhawa”
Tangis dewi Kunthi semakin menjadi-jadi mendengar penuturan anaknya tersebut. dengan suara terbata-bata, ”Mengapa kau lakukan itu anakkku, mari bergabunglah dengan Pandawa, anakku. Jangan lagi membuat Ibu berbuat dosa, Anakku.”
Karna, ”Tidak, Ibu. Saya tetap di pihak Kurawa apapun yang terjadi
Dewi Kunthi, ”Karna, Karna…… Bunuh saja Ibumu anakku sekarang daripada nanti di perang Bharatayudha supaya Kurawa memperoleh kemenangan. Sekarangs saja bunuh ibumu, anakku….”. Suara tangis Dewi Kunthi semakin menjadi-jadi. Tubuhnya berguncang-guncang. Airmata mengalir deras membasahi pipinya yang keriput dan kurus.
Karna, ”Kanjeng Ibu, jangan sampai salah paham dengan keputusan saya ini. Kanjeng Ibu mesti mengerti bahwa tidak ada cara bagi saya untuk membalas kebaikan yayi Duryodana keculai dengan membelanya sampai mati. Telah banyak kenikmatan dan kemuliaan yang diberikan kepada saya sejak peristiwa pendadaran siswa Sokalima sampai sekarang. Kanjeng Ibu, mesti mengerti bahwa baru saja saya bertengkar dengan Ramanda Prabu Salya agar Astina tidak diserahkan ke Pandhawa. Mengapa ini semua saya lakukan, Ibu. Kanjeng Ibu sudah tahu sifat yayi Prabu Duryodana. Dia tidak akan pernah berani perang Bharatayuda kalau tidak di-ojok-ojoki. Bila sampai perang Bharatayuda batal terjadi, maka angkara murka di dunia ini tidak akan musnah. Pusat angkara murka ada di Yayi Duryudana. Kalau saya diam dan Bharatayuda gagal berarti saya telah berkontribusi terhadap keabadian keangkaramurkaan. Tidak ada cara lain kecuali saya ojok-ojoki yayi Prabu Duryodana agar menolak penyerahan Astina dan saya beradu tengkar dengan mertua saya Ramanda Prabu Salya. Kalau semua ini tidak saya lakukan, kapan angkara murka akan hilang dari muka, Kanjeng Ibu. Biarlah saya menjadi korban demi tegaknya keadilan dan kebenaran. Biarlah saya menjadi korban untuk kebahagian adik-adik saya para Pandawa dan Kanjeng Ibu. Dengan cara ini saya telah membalas kebaikan yayi Prabu Duryodana sekaligus melenyapkan angkara murka. Kanjeng Ibu jangan khawatir Arjuna lah yang kelak akan mengantarkan saya ke Yamaloka. Kapan lagi itu bisa saya lakukan kalau bukan sekarang, Kanjeng Ibu?
Dewi Kunthi mendengar penjelasan Karna, semakin menjadi-jadi trangisnya. didekapnya anaknya tersebut erat-erat seakan akan tidak akan pernah dilepasnya. Dia sadar ini adalah pertemuan terakhir antara Ibu dan anak. Setelah itu tidak akan pernah lagu bertemu
Setelah itu Dewi Kunthi melepas kepergian Karna dengan hati yang campur aduk, antara salah, sedih, bangga, menyesal, bahagia dan seribu satu perasaan campur menjadi satu. Karna dilepasnya dengan tangis yang menjadi-jadi.
Kita alihkan ke Prabu Kresna yang keluar dari pendapa dengan hasil nihil. Sebelum Kresna pulang ke Indrapastha, dia bermaksud menemui Adipati Karna untuk dibujuk agar bersatu dengan Pandhawa karena masih sama-sama anak Dewi Kunthi. Tetapi dilihatnya di sekitar pendapa kosong. Menurut perkiraannya, adiknya Karna ini pergi ke Panggombakan. Benar di tengah jalan Kresna bertemu Karna. Kresna juga mengajak agar Karna bergabung dengan Pandhawa. Karnapun menjelaskan alasannya mengapa tidak bergabung dengan Pandhawa sebagaimana dijelaska kepada ibunya tersebut.
Mendengar penjelasan Karna, seketika itu Prabu Kresna menagis dan mendekap adiknya ini erat-erat seakan tidak akan dilepaskan lagi. Karnapun merasa tenang dan dia pun melanjutkan, ”Kakanda Prabu, saya berharap Kakanda Prabu menjadi kusir kereta yang dinaiki oleh Adikku Arjuna pada saat perang Bharatayudha, dan saya akan meminta yayi Prabu Duryodana agar Ramanda Prabu Salya berkenan menjadi kusir kereta yang saya naiki. Saya taju ini saya lakukan karena tidak yang sebanding kemuliaana Kakanda yang menjadi kusir adikku Arjuna, kecuali yang menjadi kusir adalah Ramanda Prabu Salya. Kemuliaan Kakanda hanya bisa ditandingi oleh kemuliaan Ramanda Prabu Salya. Di situlah kesempatan saya untuk membalas kebaikan Yayi Prabu Duryodana. Dan di situ juga kejayaan kebenaran, dan kehancuran ketidakadilan dan kebatilan akan ditegakkan. Kakanda Prabu sampikan salam saya kepada semua adik-adik saya Pandawa.”
Singkat kata, apa yang dikatakan Karna benar-benar terjadi. Dia gugur di medan laga memenuhi prinsip hidupnya: berkorban untuk tegaknya keadilan dan kebenaran dengan mengorbankan dirinya, bukan untuk kepentingan, kekuasaan, kekayaan, ketenaran, kekayaan, keelitan, kesobongan diri sendiri.
wallahu a’lam bish-shawab
Catatan: Penggambaran laku heroik Adipati Karna diabadikan oleh KPPA Mnagkunegara IV di dalam Serat Tripama.
Basukarna:
Mengorbankan Diri Demi Tegaknya Keadilan dan Kebenaran
Oleh
Sugiarso
Pemerhati Pewayanagan
Salah satau tokoh dunia pewayangan yang terkenal adalah Basukarna. Ia adalah anak Dewa Surya dengan Dewi Kunthi lewat hubungan gelap. Saat itu Dewi Kunti, anak bungsu Basudewa, Raja Mandura, memperoleh mantra Adityahredaya yang bila dibaca bisa mendatangkan siapapun yang ingin didatangkan dan tidak kembali sebelum memberikan yang diminta Dewi Kunti. Dewi Kunti sangat kagum akan kehebatan matahari sehingga dia membaca mantra untuk memanggil Dewa Surya tersebut.
Singkat kata, hubungan gelap terjadi sampai dengan kehamilan Dewi Kunti. Merasa dirinya masih perawan, tetapi sudah hamil, timbul kebingungan sehingga berupaya agar kehamilan dan kelahiran anaknya tidak diketahui oleh orang lain. Dengan bantuan Dewa Surya, anak tersebut lahir lewat telinga sehingga dinamakan Karna, atau Basukarna atau Basusena. Dia dinamakan juga Suryatmaja, artinya anak Dewa Surya.
Dewi Kunti lalu memasukkan bayi tersebut ke dalam kendhaga (kotak berukir) dihanyutkan di sungai (seperti kisah Nabi Musa yang dihanyutkan oleh ibunya). Bayi ini ditemukan oleh seorang kusir bernama Adirata. Bayi tersebut kemudian menjadi anak angkat kusir Adirata. Singkat kata, Suryatmaja tumbuh menjadi pemudah yang tampan dan pandai olah kanuragan, khususnya memanah.
Pada suatu acara yang bernama ”Pendadaran Siswa Sokalima”, yakni arena adu ketangkasan antar sesama murid Resi Drona, yakni antara Kurawa dan Pandhawa, disepakati bahwa hanya kasta Satriya yang bisa ikut acara tersebut. Kusir Adirata adalah kusir istana Astina, di mana yang menjadi raja saat itu adalah Duryodana, sulung Kurawa. Duryodana sudah sering mendengar keahlian memanah anak Adirata ini. Melihat acara tersebut Karna sangat berminat ikut acara tersebut untuk menguji kekuatan olah kanuragannya, tetapi pihak Pandawa tidak setuju karena Karna bukan kelompok Satriya.
Melihat hal itu, Duryodana segera tanggap dan seketika juga mengangkat Karna menjadi raja Awangga dengan gelar Adipati Karna. Awangga adalah daerah jajahan Astina. Dengan diangkatnya Karna menjadi raja Awangga, maka dia bisa ikut mengikuti acara terebut karena telah naik aksta menjadi kasta Satriya. Sejak saat itu Basukarna menjadi raja bawahan dan senapati Astina. Demikianlah episode hidupnya berlalu sampai datangnya masa menjelang perang Bharatayudha.
Dalam lakon ”Kresna Duta”, yakni ketika Kresna menjadi duta Pandhawa untuk meminta kembali negeri Astina dari tangan Kurawa secara baik-baik, kisah heroik dan filosofis Karna ini terjadi. Pada saat itu, dengan disaksikan oleh 4 dewa tingkat tinggi, yakni Bathara Naradha, Janaka, Kanwa, dan Parasurama, perundingan antara Kresna dan Kurawa dimulai. Kisah heroik dan filosofis ini saya ambil sanggit dari Ki Nartasabdha dengan penyesuaian di sana-sini.
Di pihak Kurawa yang hadir adalah Prabu Duryudana sebagai ketua delegasi, Patih Sangkuni, Begawan Drona, Resi Bhisma, Prabu Salya dari Mandaraka, dan senapati Astina Adipati Karna. Dari pihak Pandawa hanya Kresna sendiri, didampingi Setyaki yang menunggu di luar pendhapa.
Prabu Kresna menyampikan maksud kedatangannya sebagai duta Pandawa yang terakhir untuk meminta kembali Astina. Mendengar permintaan itu, Prabu Duryodana bingung. Lalu dia minta pendapat kepada Sangkuni, Resi Drona, Resi Bhisma, dan Prabu Salya. Menurut Sangkuni, Astina tidak bisa diserahkan ke Pandawa harus tetap menjadi milik Kurawa apapun taruhannya. Resi Drona berpendapat agar Astina dipecah-pecah dan dibagi-bagi untuk Pandhawa dan Kurawa. Resi Bhisma berpendapat agar Astina dibagi menjadi 2 sama besar untuk Pandawa dan Kurawa. Sementara itu, Prabu Salya meminta agar seluruh Astina dikembalikan ke Pandawa.
Mendengar pendapat Prabu Salya, Duryodana tidak bisa memahami alur pikir Prabu Salya. Melihat hal itu, Prabu Salya tanggap dan mengatakan, “Anak Prabu bingung kalau semua diserahkan ke Pandawa lalu Kurawa tinggal di mana? Jangan kawatir Anak Prabu, saya sudah tua, sudah bosan menjadi raja Mandaraka, anak-anak saya sudah punya istana sendiri-sendiri. Bila Astina diserahkan Pandawa seluruhnya, maka saya iklas Mandaraka saya serahkan sepenuhnya kepada Anak Prabu dan saya akan ke Gunung menjalani kehidupan sebagai Resi.”
Mendengar ucapan Prabu Salya tersebut, walaupun tidak diminta pendapat, Adipati Karna langsung menanggapi dengan sinis,“Yayi Prabu, selama saya hidup tidak ada orang yang dengan gampangnya menyerahkan apa yang dimiliki begitu saja. Apalagi ini negara. Saya tidak percaya dengan ucapan orang tua tersebut. Janganlah Yayi Prabu berkecil hati dalam mempertahankan Astina. Selagi Adipati Karna masih ada, Pandawa tidak akan bisa mengambil Astina sebelum melangkahi mayat Karna. Saya akan bela Astina sampai titik darah penghabisan”.
Mendengar ucapakan Adipati Karna tersebut, yang sebenarnya masih menantunya sendiri, Prabu Salya langsung terbakar emosinya. “He orang yang sok jagoan, merasa sakti sendiri di dunia, orang yang tidak punya tatakrama, jangan cuma omonganmu yang seperti geledek. Ayo tunjukkan dengan perang tanding melawan saya. Jangan dikira karena saya sudah tua tidak mampu merobek mulutmu yang lancang itu”. Melihat situasi itu, Prabu Duryodana segera turun dari takhta dan menahan kemarahan Prabu Salya. Sementara Adipati Karna langsung ke luar dari Pendhapa.
Singkat cerita, misi Kresna gagal total karena Duryodana tetap kukuh tidak mau mengembalikan Astina kepada Pandhawa. Dengan hal itu, maka perang besar antar darah Bharata akan terjadi, yakni Perang Bharatayuda.
Sementara itu, Adipati Karna yang keluar dari pendapa langsung menuju ke tempat Raden Yamawidura, adik Destarasta di kasatriyan Panggombakan. Di sana dia menemui ibunya, Dewi Kunti. terjadilah dialog yang luar biasa.
Dewi Kunthi: “Anakku, Ibu sadar bahwa Ibu melakukan kesalahan kepadamu. Ibu telah menyia-nyiakan kepadamu. Ibu mementingkan diri sendiri. Dan betapa bahagianya hari ini, anakku telah telah memanggil aku “Ibu”. Sungguh, kebahagian yang tiada tara”.
Karna: “Kanjeng Ibu, Ananda memang anak yang tidak berguna, membuat malu Ibu, mencoreng muka seluruh kerabat istana Mandura. Tapi ijinkah saya menyampaikan sungkem saya lepada Ibu untuk yang terakhir kali”
Dewi Kunthi, “Anakku, jangan kau katakana seperti itu. Marilah bergabung dengan Pandawa. Anakku adalah anak sulung. Mereka akan memuliakanmu dan memberikan yang terbaik untukmu. Bergabunglah anakku. Berilah kesempatan kepada Ibu untuk menebus dosa-dosa Ibu”.
Karna, ”Maaf Ibu, saya tidak bisa bergabung dengan Pandhawa, saya akan bergabung dengan Kurawa dan akan saya bunuh adik-adik saya Pandhawa”
Tangis dewi Kunthi semakin menjadi-jadi mendengar penuturan anaknya tersebut. dengan suara terbata-bata, ”Mengapa kau lakukan itu anakkku, mari bergabunglah dengan Pandawa, anakku. Jangan lagi membuat Ibu berbuat dosa, Anakku.”
Karna, ”Tidak, Ibu. Saya tetap di pihak Kurawa apapun yang terjadi
Dewi Kunthi, ”Karna, Karna…… Bunuh saja Ibumu anakku sekarang daripada nanti di perang Bharatayudha supaya Kurawa memperoleh kemenangan. Sekarangs saja bunuh ibumu, anakku….”. Suara tangis Dewi Kunthi semakin menjadi-jadi. Tubuhnya berguncang-guncang. Airmata mengalir deras membasahi pipinya yang keriput dan kurus.
Karna, ”Kanjeng Ibu, jangan sampai salah paham dengan keputusan saya ini. Kanjeng Ibu mesti mengerti bahwa tidak ada cara bagi saya untuk membalas kebaikan yayi Duryodana keculai dengan membelanya sampai mati. Telah banyak kenikmatan dan kemuliaan yang diberikan kepada saya sejak peristiwa pendadaran siswa Sokalima sampai sekarang. Kanjeng Ibu, mesti mengerti bahwa baru saja saya bertengkar dengan Ramanda Prabu Salya agar Astina tidak diserahkan ke Pandhawa. Mengapa ini semua saya lakukan, Ibu. Kanjeng Ibu sudah tahu sifat yayi Prabu Duryodana. Dia tidak akan pernah berani perang Bharatayuda kalau tidak di-ojok-ojoki. Bila sampai perang Bharatayuda batal terjadi, maka angkara murka di dunia ini tidak akan musnah. Pusat angkara murka ada di Yayi Duryudana. Kalau saya diam dan Bharatayuda gagal berarti saya telah berkontribusi terhadap keabadian keangkaramurkaan. Tidak ada cara lain kecuali saya ojok-ojoki yayi Prabu Duryodana agar menolak penyerahan Astina dan saya beradu tengkar dengan mertua saya Ramanda Prabu Salya. Kalau semua ini tidak saya lakukan, kapan angkara murka akan hilang dari muka, Kanjeng Ibu. Biarlah saya menjadi korban demi tegaknya keadilan dan kebenaran. Biarlah saya menjadi korban untuk kebahagian adik-adik saya para Pandawa dan Kanjeng Ibu. Dengan cara ini saya telah membalas kebaikan yayi Prabu Duryodana sekaligus melenyapkan angkara murka. Kanjeng Ibu jangan khawatir Arjuna lah yang kelak akan mengantarkan saya ke Yamaloka. Kapan lagi itu bisa saya lakukan kalau bukan sekarang, Kanjeng Ibu?
Dewi Kunthi mendengar penjelasan Karna, semakin menjadi-jadi trangisnya. didekapnya anaknya tersebut erat-erat seakan akan tidak akan pernah dilepasnya. Dia sadar ini adalah pertemuan terakhir antara Ibu dan anak. Setelah itu tidak akan pernah lagu bertemu
Setelah itu Dewi Kunthi melepas kepergian Karna dengan hati yang campur aduk, antara salah, sedih, bangga, menyesal, bahagia dan seribu satu perasaan campur menjadi satu. Karna dilepasnya dengan tangis yang menjadi-jadi.
Kita alihkan ke Prabu Kresna yang keluar dari pendapa dengan hasil nihil. Sebelum Kresna pulang ke Indrapastha, dia bermaksud menemui Adipati Karna untuk dibujuk agar bersatu dengan Pandhawa karena masih sama-sama anak Dewi Kunthi. Tetapi dilihatnya di sekitar pendapa kosong. Menurut perkiraannya, adiknya Karna ini pergi ke Panggombakan. Benar di tengah jalan Kresna bertemu Karna. Kresna juga mengajak agar Karna bergabung dengan Pandhawa. Karnapun menjelaskan alasannya mengapa tidak bergabung dengan Pandhawa sebagaimana dijelaska kepada ibunya tersebut.
Mendengar penjelasan Karna, seketika itu Prabu Kresna menagis dan mendekap adiknya ini erat-erat seakan tidak akan dilepaskan lagi. Karnapun merasa tenang dan dia pun melanjutkan, ”Kakanda Prabu, saya berharap Kakanda Prabu menjadi kusir kereta yang dinaiki oleh Adikku Arjuna pada saat perang Bharatayudha, dan saya akan meminta yayi Prabu Duryodana agar Ramanda Prabu Salya berkenan menjadi kusir kereta yang saya naiki. Saya taju ini saya lakukan karena tidak yang sebanding kemuliaana Kakanda yang menjadi kusir adikku Arjuna, kecuali yang menjadi kusir adalah Ramanda Prabu Salya. Kemuliaan Kakanda hanya bisa ditandingi oleh kemuliaan Ramanda Prabu Salya. Di situlah kesempatan saya untuk membalas kebaikan Yayi Prabu Duryodana. Dan di situ juga kejayaan kebenaran, dan kehancuran ketidakadilan dan kebatilan akan ditegakkan. Kakanda Prabu sampikan salam saya kepada semua adik-adik saya Pandawa.”
Singkat kata, apa yang dikatakan Karna benar-benar terjadi. Dia gugur di medan laga memenuhi prinsip hidupnya: berkorban untuk tegaknya keadilan dan kebenaran dengan mengorbankan dirinya, bukan untuk kepentingan, kekuasaan, kekayaan, ketenaran, kekayaan, keelitan, kesobongan diri sendiri.
wallahu a’lam bish-shawab
Catatan: Penggambaran laku heroik Adipati Karna diabadikan oleh KPPA Mnagkunegara IV di dalam Serat Tripama.