Warung Sari
Ada banyak cerita tercipta dari bangunan tua itu. Sebuah rumah setengah tembok yang berdiri di antara himpitan gedung yang congkak mengkilat. Di lihat dari luar orang akan segera bisa menebak bahwa rumah itu hanya sanggup menampung tidak lebih dari dua kamar tidur. Di sisi bangunan rumah utama, tersambung sebuah ruangan memanjang dengan atap lebih rendah. Pastilah ini bangunan tambahan yang mempunyai fungsi lain dari rumah induk. Empat buah meja dengan ukuran 1 x 2 meter disusun berjajar dengan bangku kayu panjang di kedua sisinya. Setiap pagi halamannya yang berkerikil selalu basah, bukan saja karena embun yang menetes dari daun pohon jambu yang tumbuh menua, akan tetapi karena sang Ibu rajin menyiraminya. Membersihkannya dengan derik sapu lidi, menghalau debu yang beranjak terbang.
Menjelang pukul 06.30 warung belum juga buka. Pintu rapuh kayu berukir jejak rayap dan bopeng usia masih tertutup rapat dengan gerendel yang mengatup. Jendela buram kaca masih terlapisi tirai motif bunga-bunga. Tampak lusuh meski rajin dicuci. Aku sudah duduk di beranda. Menunggu sapa ramah sang pemilik warung. Biasanya begitu melihatku sudah ada di beranda, si Ibu pemilik warung akan segera menyambutku dengan salam dan keramahan yang tidak pernah kudengar sebagai basa-basi buatan. Terdengar tulus, hangat.
“Assalamu’alaikum Mas Arif… sudah lama nunggunya?” dia selalu menyapaku dengan panggilan Mas, bukan karena ia lebih muda dariku, dia jauh lebih tua bahkan dibandingkan kedua orangtuaku. Aku kadang risih menerima penghormatannya yang demikian. Sebab aku tahu panggilan Mas yang dimaksud bukanlah bentuk pendek dari Kangmas, akan tetapi Denmas. Sebuah panggilan penghormatan kepada seseorang yang dianggap lebih tinggi derajatnya. Tapi itu tidak dilakukan kepadaku saja, juga ke semua orang. Maka aku selalu menilainya sebagai kerendahan hati yang sangat tulus.
Ah, bangsa yang feodal, mengapa kau bebani ia dengan penghormatan yang sedemikian itu?
“Wa’alaikum salam Bu… baru saja kok,” Aku menjawabnya sambil meraih tangannya, kusalam dan cium telapak tangannya yang penuh peta hidup nan rumit. Sebuah peta yang aku yakin pasti bermuara di surga. Semakin terasa damai ketika aku mencium tangannya. Sebuah pembuka hari yang indah.
“Silakan masuk, air sudah mendidih. Ngersaaken kopi kan. Biasanya Mas Teguh juga datang pagi-pagi, apalagi ini hari Senin. Tapi kok belum kelihatan ya?” dia membuka pintu rapuhnya dan mempersilakan aku masuk, sambil mulai menghitung para pengunjung, lebih tepatnya pelanggan yang biasa datang di awal pagi. Suara berderit. Fajar menyeruak masuk. Seiring aku yang segera masuk menuju kompor yang memang sudah menyala lama. Rambat api disumbunya mengabarkan betapa ia sudah keras bekerja. Menjilat dasar panci tempat menjerang air. Kubuka tutup panci, memastikan air sudah mendidih. Berbuih asap, hangat menghambur menyentuh pori-pori yang memang belum mandi. Menyisa embun di kulit tangan yang hitam melegam.
Aku memilih tempat duduk tidak jauh dari kompor, di depan sebuah meja yang mengkilat hitam karena sering tersapu lap basah. Ibu menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah terisi racikan gula dan kopi, racikannya selalu terasa presisi dalam pengamatanku. Sebuah ukuran yang dihafal di panjangnya waktu. Suara sendok beradu dengan dasar gelas saat Ibu mengaduk kopi selalu mengingatkanku pada hal-hal yang besar. Seperti putaran bumi, roda pabrik di jelaga oli, atau juga sirine ambulan. Irama yang dihasilkan selalu menimbulkan efek hayali berbeda setiap harinya. Aku menikmati dengan sekepul asap rokok yang membumbung.
Dibungkus kebayanya yang tua, semakin menampakkan ketegaran Ibu yang telah lama aku kenal. Dia tentunya dulu gadis ningrat yang cantik, berpostur mungil, parasnya tidak menyisakan kesengsaraan, melainkan ketegaran. Sebuah lukisan yang menggantung di dinding warung menampilkan wajah ayunya, bertahun 1943. Meski sekarang tidak lagi ada lesung pipinya, seperti yang tampak di lukisan itu, tapi sisa kecantikannya masih jelas tampak, langkahnya tentu tidak setegak dulu. Ia tidak pernah memakai kacamata, sebuah perangkat yang selalu melekat bagi orang sepuh sepertinya. Kacamata hanya digunakan sesaat setelah salam sholatnya. Ketika ia mendaras Qur’annya.
Ia menghantarkan gelas bening bertutup seng, diletakkannya dengan hati-hati di meja. Menarik kursi dan duduk berhadapan denganku. Menyuguhkan segelas kopi dengan sebuah cerita panjang yang berulang.
“Mas Arif….” Begitu ia membuka cerita.
“Warung ini namanya Warung Sari, sampean tahu mengapa?”
aku tidak menjawabnya hanya tersenyum dan menjawab “inggih” , sebab aku sudah hafal betul alur cerita selanjutnya. Cerita yang setiap pagi aku dengar laksana genta yang bertalu menyambut matahari pagi.
“Saya dulu, sebelum pindah ke Malang tahun 1937, keluarga saya berasal dari Mojosari. Dekat rumah sampean. Sedangkan almarhum Bapak berasal dari Singosari. Maka ketika kami berkeluarga dan memulai usaha warung ini, kami menamainya dengan Warung Sari. Diambil dari nama dua daerah itu tadi, Mojosari dan Singosari.”
Berkata demikian ia sambil menerawang, menatap masa lalu yang berkelebat sepintas lalu. Terlintas kesedihan, ratap, atau bahkan pilu. Tapi hanya sesaat, betul-betul sesaat. Sebab kemudian disusul senyum dengan pertanyaan-pertanyaan yang juga berulang.
“Apa pasar Mojosari masih tetap di Sawahan? Apa stasiun kereta api itu masih ada?”
“Dulu ketika saya masih kecil, saya sering diajak belanja sama Emak saya ke pasar Sawahan, toko yang ada hanya milik-milik Taoke China . Waktu itu belum ada orang Jawa yang berani berdagang. Takut sama pajak yang tinggi yang dipungut kumpeni. Stasiun itu dulu, tempat terakhir sebelum saya naik ke gerbong kereta menuju Malang lewat Jombang dalam tugas Palang Merah”
Aku menjawabnya dengan jawaban seragam. Sebab aku sudah hafal betul reaksinya ketika kukabarkan sekarang Mojosari memiliki dua pasar tradisional. Satu di Sawahan yang kedua di bekas stasiun yang diceritakannya. Keduanya hanya berjarak tidak lebih dari satu kilometer. Dulu waktu jaman pembangunan, pemerintah bermaksud memindahkan pasar Sawahan ke pasar stasiun, selain mengalih fungsikan stasiun yang menganggur karena tidak lagi dilewati kereta api, juga mau meremajakan kawasan Sawahan sebagai pemukiman yang asri. Tapi tidak berhasil, pedagang pasar Sawahan tetap berjualan di tempatnya. Sedangkan pedagang di pasar stasiun juga mulai berdatangan. Kata orang, kalau sebuah daerah memang memiliki yoni pasar, ia tidak akan bisa dipakai tetirahan. Penghuninya tidak akan mampu istirahat. Jadilah kini Mojosari memiliki dua pasar yang sama-sama berfungsi.
Mendengar uraian ini, Ibu menyambutnya dengan reaksi riang. Berlanjut dengan cerita-cerita kekejaman penjajahan.
Tanpa terasa, telah lebih dari 30 menit aku menikmati cerita Ibu. Empat rokok kretek sudah sambung menyambung menyapa paru-paruku. Ibu juga sudah bolak-balik menuang air panas ke kopi yang mulai banyak pemesan. Aku beringsut menjawab sapa teman yang baru datang. Cerita Ibu berakhir tenggelam dalam pikuk pembeli yang mulai berdatangan.
Tiga lelaki masuk bersama, dua orang tampak kuyuh, kurus dengan rambut sebahu. Satu lagi tampak lebih muda dari kedua temannya. Langsung duduk tanpa memesan apa-apa. Bercakap serius dengan kilatan korek api menyulut ujung rokoknya.
Tapi Ibu seolah sudah tahu maksud kedatangannya. Diseduhnya tiga gelas kopi, diantar ke mejanya. Disambut dengan keriangan yang sangat.
Yang paling tinggi badannya, paling lusuh penampilannya, juga paling senior tampaknya. Bernama Yosa Batu Prasada, dikenal di Malang sebagai seorang seniman seni rupa. Aku mengenalnya pertama ketika tahun 1994 dia berpameran di Surabaya . Kini ia masih seperti pertama aku kenal. Bukan ciri fisiknya, akan tetapi topic pembicaraannya yang tidak pernah beranjak dari isu-isu kesenian. Bergabung dalam pembicarannya aku merasa sedang berada di tumpukan buku yang berwarna-warni teori.
Teman kedua, yang tampak lebih muda, bernama Ahmad Santoso. Meski bernama Ahmad dia bukanlah seorang muslim, mengaku sebagai atheist, tetapi dalam KTP nya tertulis agamanya Kristen. Dia memang tidak pernah ke gereja meski beragama Kristen. Setiap ditanya mengapa ia tidak memilih beragama saja dengan taat, ia selalu menjawab agama belum mampu menjawab kebutuhan psikologinya. Ia tidak melanjutkan apa sesungguhnya yang ia tidak dapatkan dari agama.
Dia sebenarnya seorang keturunan China , nama aslinya dalam keluarga adalah Lie Thiam Hong yang menurutnya berarti lautan buku. Jaman pemerintah mengalami paranoia hebat akan pengaruh komunis, nama-nama China tidak boleh digunakan. Maka orang tuanya menamakan dia dengan A Santoso, bentuk baru dari kata A San yang bermakna Anak pertama. Tapi nama ini juga ditolak petugas Catatan Sipil, karena dalam akte kelahiran tidak boleh ada nama berakronim. Singkat cerita jadilah A dalam A Santoso dimaknai oleh petugas catatan sipil sebagai akronim dari Ahmad.
Sesuai dengan nama China nya, dia memang seorang kutu buku yang sesungguhnya. Semua persoalan yang berkaitan dengan pustaka, teman-teman akan mengajukan tanya padanya. Saking terkenalnya sampai ada pameo yang beredar di kalangan teman-teman, yaitu Maha Benar Santoso dengan segala bukunya.
Berambut panjang yang kedua, berwajah keras, berbahu bidang. Suaranya serak baritone. Sesuai dengan pekerjaan kesehariannya, seorang penyiar radio di Makobu FM. Namanya Yoyok Pras, di kalangan teman-temannya ia dikenal sebagai penggiat teater yang sangat berdedikasi. Banyak lakon yang sudah ia perankan. Rambutnya dikuncir acak ke belakang.
Dalam hidangan kopi dan asap yang terus berhembus di sela bibir-bibir yang menghitam, pembicaraan mereka berlanjut. Topic yang sempat aku rekam di sela gerai tawa adalah gerakan seni rupa baru. Ah, betapa topic yang rumit, ingin segera kutuang habis kopi tersisa, untuk kemudian beranjak pergi. Tapi ke mana? Aku tidak punya alamat juga tujuan di pagi ini. Aku menuju beranda dengan segelas kopi yang hangatnya menguap berangsur menjadi dingin. Kutemui beberapa teman duduk layu. Kontras sekali dengan riuh diskusi di dalam. Wajah-wajah tertunduk lelah, meski hari belum juga siang. Aku tidak tahu mengapa, apakah ini konsekwensi dari orang yang sudah berumah tangga? Menyambut beban tiap pagi, setiap hari menghitungkan tugas.
Salah satu yang kukenal adalah Pak Sugab, pria separuh baya. Berprofesi sebagai pegawai negeri, tepatnya guru di SMA Malang. Setiap pagi ia datang ke warung lengkap dengan baju safarinya. Dengan kesuntukan yang serupa. Aku hafal betul jadwal kedatangannya, suara knalpot motor bebek keluaran tahun 75-an sangat khas mengantar kegelisahannya. Ia lebih sering memilih duduk di beranda setelah memesan segelas wedang jahe. Mengeluarkan cangklong dan mengisinya dengan tembakau. Semakin menambah kesan tua di tengah masalah yang seolah menggunung di pundaknya. Secara ekonomi jelas ia lebih mapan di banding ketiga temanku yang sedang asyik berdiskusi di dalam, tetapi mengapa ia selalu memamerkan kegelisahan dalam setiap bahasa tubuhnya?
Aku tiba-tiba tidak nyaman berada pada situasi ini. Bayang-bayang himpitan hidup berjibaku dengan imajinasi asing yang bersaut-sautan. Langit yang sedari tadi ceria mengantar sinarnya yang hangat tiba-tiba redup tanpa pertanda. Aku ketakutan lari ke dalam. Semua orang berwajah gelisah di wajahnya menetes darah yang sengaja disayat dengan kuku jarinya.
Aku memutuskan pergi sebelum muntah oleh mual diskusi. Tapi ke mana? Aku tidak punya tujuan juga alamat pagi ini.
———————————————–
Kini, saat ini setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu. Tempat itu semakin memaku, mengikatku laksana sebuah candu. Mengikatku pada keramahan yang disajikan sang Ibu. Memenjarakan pada topic diskusi yang kadang tidak aku mengerti. Memanggilku kembali saat-saat gelisah butuh tawa, atau sebaliknya. Pohon jambu yang dulu sudah menua, kini aku melihatnya laksana taman surga tempat berteduh segala hamba. Manusia semakin unik, satu persatu pergi, tapi tak satupun berhasil beranjak dari cerita yang memang belum sempurna.