LENSA SEPI DAN ANJING YANG MEREKAM RAHASIA

August 29, 2008

LENSA SEPI DAN ANJING YANG MEREKAM RAHASIA

 

 

Dia tidak sedang menunggu seseorang, duduk sendiri di bawah kursi berpayung dengan sebuah meja bundar melingkar. Sudah beberapa kali dia memicingkan mata di lubang intip kameranya. Menengadahkan kepala, seolah mau memotret langit. Kemudian menggeser duduknya, seolah membidik sasaran tembak yang dan mau melumpuhkannya dalam satu letupan. Dia juga tidak hendak mau berenang, meski dia sedang di tepi kolam renang. Di pagi hari dan bukan hari libur. Kolam renang umum itu sedang sepi. Air biru yang di batasi garis-garis lintasan berwarna merah dan putih nampak tenang, tidak berkecipak juga beriak. Matahari yang meski juga belum tinggi tapi sudah mengantar panas yang sedikit terik. Angin tidak sedikitpun datang menggoyang daun-daun di pepohonan sekeliling kolam renang. Dia membisu, tidak sedang menunggu. Bukan juga sedang bosan, karena dia tidak sedang murung. Merogoh kantung baju, mengeluarkan benda serupa kalkulator, mungkin pda, mungkin juga radio transistor. Memencet beberapa tombol dan melekatkan pada daun telinga. Tanpa percakapan, benda itu dikembalikan lagi ke sakunya. Tidak juga ia memutar musik, sebab sebuah head set dari perangkat musiknya dikemas lagi setelah urung dipasang ke telinganya. Hanya matanya yang berkeliling waspada dengan kamera di tangan kanannya. Tidak ada sasaran yang dituju. Sendiri, membisu. Tidak ada komunikasi, kecuali ia dengan benda-benda yang disandangnya. Seorang manusia sedang bercakap-cakap dengan benda mati dalam bahasa dan kepentingan yang hanya ia sendiri yang pahami.

 

Setelah lama duduk, dia beranjak berdiri menuju snack bar dan memesan segelas kopi. Tampak dialog singkat di meja kasir, sebelum dia  kembali ke meja berpayung. Kali ini ada yang ditunggu, yaitu secangkir kopi yang dipesan. Kembali dia membuka lensa kameranya, mengelap debu yang menempel di pupil kaca kamera dengan sebuah tisu basah. Tisu khusus yang dikeluarkan dari kantong kameranya.

 

 

“Donat satu dan black coffee satu.” Seorang pramusaji memecah keheningan yang sedari tadi ia pelihara.

 

“Terima kasih,” sedikit terkejut ia merespon antaran kopinya.

“Maaf, bisa saya pinjam pemantik api? Saya ingin merokok.” ia membuka percakapan dengan pramusaji.

 

Pramusaji mengeluarkan pemantik api terbuat dari kayu dari saku celana dan memberikan dengan sebuah peringatan. “Tapi merokok, hanya diperbolehkan di luar pagar Pak,”

 

“It’s OK” ia menerima pemantik api dan mengangkat cangkirnya untuk keluar pagar, ke sebuah tempat khusus serupa halte bus yang disediakan untuk merokok yang dilengkapi dengan exhaust fan untuk menghisap asap rokok.

 

Kembali ia sendiri, merokok sambil berdiri. Karena di tempat merokok tidak disediakan kursi. Tangan kirinya memegang cangkir kopi dengan dua jari menjepit setangkai rokok yang mengepul nyala. Kamera menggantung di lehernya. Seekor anjing hitam datang mendekat, mungkin lapar, mungkin juga sedang mengendus curiga. Duhai, hewan yang memiliki kepekaan yang tinggi, luputkah ia dari pengamatanmu bahwa ia sedang mencari?

Dihisapnya kembali rokok dan menghembus asap serupa cerobong kereta api yang mengantar para perantau pergi. Diletakkan cangkir di atas rongga-rongga besi yang melindungi kipas exhaust fan. Jongkok melambai memanggil anjing mendekat, dengan sebuah isyarat dan bunyi yang diajarkan oleh naluri. Seolah memahami, anjing hitam mendekat dengan sebuah suara, yang bukan gonggongan. Saya susah memilih kata untuk mendeskripsikan bunyi ini. Semacam balasan atas tegur sapa. Seperti orang yang mendengkur dalam lelap tidur. “Ngiiik…” sambil mengangguk-angguk seperti menggaruk.

Diusapnya kepala anjing itu dengan lembut. Tidak mau ia menganggu sang anjing dengan kepul asap, maka dibuangnya batang rokok ke tempat sampah. Anjing yang sedari tadi asing kini nampak begitu akrab. Mengikuti dari belakang, dan kembali duduk.

Tanpa suara, keduanya bercakap dengan gerakan tangan yang mengusap dan jilatan terima kasih yang mudah terpahami. Waktu yang berjalan lambat belum juga membuat kopi menjadi dingin. Tidak ada teman, tidak ada percakapan. Dan ia mencari. Mencari benda yang terus ia intip dari balik lensa kameranya. Tapi bukan anjing, ia teramat sayang pada binatang yang tiba-tiba mengantarkan imajinasinya pada masa silam.

Ia kemudian menuturkan cerita pada anjingnya yang tak bernama.

 

 

Semasa usia belum genap dewasa, aku pernah mencari seperti ini. Pencarian yang tidak pernah terpahami karena apa, dengan apa, juga mungkin berhasil apa.

Kelak aku hanya tahu, pencarian itu bernama cinta. Bermakna bahagia.

Jatuh cinta memang sesederhana pencarian, jika ketemu akan menimbulkan kepuasan. Tapi perbedaannya, pencarian dalam cinta tidak selalu berakhir dengan penemuan meski kadang berwujud kesimpulan.

 

Aku jatuh cinta di sebuah tempat yang kini aku tinggali untuk meniti hidup, merangkai usia, menata peristiwa. Di tempat segala bermula dalam wujud yang berubah-ubah.

Aku jatuh cinta pada sebuah waktu yang terekam diam dalam detak bumi, dan tonggak tugu yang berangsur punah.

Aku jatuh cinta pada sebuah cuaca, yang mengganti angin menjadi hujan, kering menjadi kemarau. Di sela lapisan langit yang memberi alam segala tanda.

Aku jatuh cinta pada semua yang berubah laksana nyanyian yang didendangkan Tuhan dalam segala kitab suci-Nya.

 

Aku jatuh cinta pada satu nama, yang mengandung cita-cita dalam khusuk doa orangtua. Doa yang dilantunkan dalam setiap hembus nafas ikhlas bernama ibadah.

Di setiap senyum yang selalu terberi bagi semua, di setiap langkah yang beralamat pada keinginan, di setiap bahasa yang mengulum ketegaran cita-cita.

 

Jatuh cinta memang bukan perkara mudah, sebab ia tidak memiliki batasan usia. Juga tidak memiliki masa pudar kadaluarsa. Peristiwa ini aku alami sekitar 15 tahun yang lalu, ketika aku bertemu seorang yang dalam kacamata siapa saja selalu menyimpulkan pemahaman yang sama. Cantik, cerdas, dan untuk lebih melengkapi dia juga baik hati.

Sebagai seorang mahasisiwa rantau dia juga sama dengan yang lainnya, tinggal di sebuah rumah kos sederhana. Di sebuah lorong sempit di antara tumpukan bangunan yang serupa barak tentara. Kuliah, dalam keseharian ia jalani dengan penuh keseriusan. Sangat berbeda dengan aku, yang menganggap kuliah bukan lagi beban, akan tetapi petaka. Ia justru menjalani kuliah selayaknya seorang dahaga yang terus-menerus menimba. Pengetahuan, jika tidak ingin menyebutnya sebagai ilmu, telah ia tumpuk dalam batok kepala seperti menata rumus matematika. Sedangkan aku, seorang mahasiswa malas, yang hanya menumpuk ilusi. Menggebu, jika membahas imajinasi. Mengkerut, jika berhadapan dengan arti tanggungjawab. Dia juga seorang hamba yang taat akan segala perintah Tuhannya, aku dengan segala cara menyangkal keberadaan-Nya dengan otak yang diberikan oleh-Nya dengan cuma-cuma.

Dia, oh sungguh dia, adalah makhluk yang menjadi pembeda antara benar dan salah.

 

Begitu banyaknya perbedaan, yang bukan saja berbeda tetapi juga bertentangan. Seharusnya dia adalah teman dialog yang sangat membangun bagi penyempurnaan ide-ide. Akan tetapi, demi pengkhianatan pada hati kecilku, semua urung kulakukan. Aku tak sanggup berdialog dengannya, aku takut tidak mampu bersikap obyektif di hadapannya. Aku akan terlalu naif, berkata ya, hanya karena ia adalah ia. Bukan ia sebagai ide. Aku tidak mau kemudian terjebak ketika menghargainya hanya sebatas kekaguman pada benda. Aku memang sedang butuh sepasang mata bagi cinta yang buta.

Cinta yang buta, sebab ketika bertegur sapa dengannya aku merasa menjadi sempurna. Ketika awan menjadi gelap bukan payung yang aku siapkan. Justru rintik hujan yang aku sambut dengan basah kepala. Ketika matahari mendidihkan aspal jalan raya, bukan sepatu yang aku kenakan, justru telapak kaki yang aku persiapkan. Semua di hadapanku menjadi bersahabat. Kicau burung dan gugur daun dari ranting pohon adalah nyanyian merdu di sela senda tawa. Halilintar dan gemuruh kendaraan bisa berubah menjadi irama syahdu di gendang telinga. Entah, begitu bersamanya semua suara menjadi pelan tempo iramanya. Seolah waktu memperpanjang bingkainya.

 

Coba saja kawan, seandainya saja saat ini kamu ikut terlibat di dalamnya. Coba saja, lihat bening matanya. Bukankah itu adalah cermin gamblang tentang arti ketulusan? Sekali lagi, matanya. Di bening air danaunya semua dipantulkan, termasuk lemah rahasia yang kamu simpan di dasar kekaguman. Jangan beranjak ke yang lain. Aku tak mampu mendiskripsikannya untukmu, juga lembut pipinya. Sungguh aku tak sanggup. Jangan memaksa aku, sekali lagi aku tak mampu.

 

 

Oh mengapa musti ini terceritakan padanya, seekor anjing hitam. Berkeliaran sendiri, percayakah dia pada kepatuhannya yang luar biasa. Mengapa musti padanya rahasia ini dibagi. Tersampaikan bersamaan dengan sekawanan kupu dan burung yang hinggap diam mencuri dengar?

Anjing yang tak bernama itu kembali meninggikan daun telinga, seolah ada sesuatu yang ia dengar di luar kemampuan manusia. Mengendus prasangka. Sang Anjing membelalakkan mata menatap ia yang telah membidikkan kamera, dengan tangan yang memutar knop focus lensa. Sebuah bayang, ia rekam dengan tombol yang ditekan ujung jari telunjuknya. Bayang itu bayang hati.

Rupanya anjing tak bernama itu menangkap sebuah isyarat nyata, bahwa pencerita sedang berkecamuk gundah gulana. Kemudian ia menggonggong, seperti tidak mau terbebani oleh rahasia yang baru saja ia dengar dari sang pencerita, beranjak pergi.

 

Kolam renang kembali sepi.

 

 

 

 

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.