LENSA SEPI DAN ANJING YANG MEREKAM RAHASIA

 

 

Dia tidak sedang menunggu seseorang, duduk sendiri di bawah kursi berpayung dengan sebuah meja bundar melingkar. Sudah beberapa kali dia memicingkan mata di lubang intip kameranya. Menengadahkan kepala, seolah mau memotret langit. Kemudian menggeser duduknya, seolah membidik sasaran tembak yang dan mau melumpuhkannya dalam satu letupan. Dia juga tidak hendak mau berenang, meski dia sedang di tepi kolam renang. Di pagi hari dan bukan hari libur. Kolam renang umum itu sedang sepi. Air biru yang di batasi garis-garis lintasan berwarna merah dan putih nampak tenang, tidak berkecipak juga beriak. Matahari yang meski juga belum tinggi tapi sudah mengantar panas yang sedikit terik. Angin tidak sedikitpun datang menggoyang daun-daun di pepohonan sekeliling kolam renang. Dia membisu, tidak sedang menunggu. Bukan juga sedang bosan, karena dia tidak sedang murung. Merogoh kantung baju, mengeluarkan benda serupa kalkulator, mungkin pda, mungkin juga radio transistor. Memencet beberapa tombol dan melekatkan pada daun telinga. Tanpa percakapan, benda itu dikembalikan lagi ke sakunya. Tidak juga ia memutar musik, sebab sebuah head set dari perangkat musiknya dikemas lagi setelah urung dipasang ke telinganya. Hanya matanya yang berkeliling waspada dengan kamera di tangan kanannya. Tidak ada sasaran yang dituju. Sendiri, membisu. Tidak ada komunikasi, kecuali ia dengan benda-benda yang disandangnya. Seorang manusia sedang bercakap-cakap dengan benda mati dalam bahasa dan kepentingan yang hanya ia sendiri yang pahami.

 

Setelah lama duduk, dia beranjak berdiri menuju snack bar dan memesan segelas kopi. Tampak dialog singkat di meja kasir, sebelum dia  kembali ke meja berpayung. Kali ini ada yang ditunggu, yaitu secangkir kopi yang dipesan. Kembali dia membuka lensa kameranya, mengelap debu yang menempel di pupil kaca kamera dengan sebuah tisu basah. Tisu khusus yang dikeluarkan dari kantong kameranya.

 

 

“Donat satu dan black coffee satu.” Seorang pramusaji memecah keheningan yang sedari tadi ia pelihara.

 

“Terima kasih,” sedikit terkejut ia merespon antaran kopinya.

“Maaf, bisa saya pinjam pemantik api? Saya ingin merokok.” ia membuka percakapan dengan pramusaji.

 

Pramusaji mengeluarkan pemantik api terbuat dari kayu dari saku celana dan memberikan dengan sebuah peringatan. “Tapi merokok, hanya diperbolehkan di luar pagar Pak,”

 

“It’s OK” ia menerima pemantik api dan mengangkat cangkirnya untuk keluar pagar, ke sebuah tempat khusus serupa halte bus yang disediakan untuk merokok yang dilengkapi dengan exhaust fan untuk menghisap asap rokok.

 

Kembali ia sendiri, merokok sambil berdiri. Karena di tempat merokok tidak disediakan kursi. Tangan kirinya memegang cangkir kopi dengan dua jari menjepit setangkai rokok yang mengepul nyala. Kamera menggantung di lehernya. Seekor anjing hitam datang mendekat, mungkin lapar, mungkin juga sedang mengendus curiga. Duhai, hewan yang memiliki kepekaan yang tinggi, luputkah ia dari pengamatanmu bahwa ia sedang mencari?

Dihisapnya kembali rokok dan menghembus asap serupa cerobong kereta api yang mengantar para perantau pergi. Diletakkan cangkir di atas rongga-rongga besi yang melindungi kipas exhaust fan. Jongkok melambai memanggil anjing mendekat, dengan sebuah isyarat dan bunyi yang diajarkan oleh naluri. Seolah memahami, anjing hitam mendekat dengan sebuah suara, yang bukan gonggongan. Saya susah memilih kata untuk mendeskripsikan bunyi ini. Semacam balasan atas tegur sapa. Seperti orang yang mendengkur dalam lelap tidur. “Ngiiik…” sambil mengangguk-angguk seperti menggaruk.

Diusapnya kepala anjing itu dengan lembut. Tidak mau ia menganggu sang anjing dengan kepul asap, maka dibuangnya batang rokok ke tempat sampah. Anjing yang sedari tadi asing kini nampak begitu akrab. Mengikuti dari belakang, dan kembali duduk.

Tanpa suara, keduanya bercakap dengan gerakan tangan yang mengusap dan jilatan terima kasih yang mudah terpahami. Waktu yang berjalan lambat belum juga membuat kopi menjadi dingin. Tidak ada teman, tidak ada percakapan. Dan ia mencari. Mencari benda yang terus ia intip dari balik lensa kameranya. Tapi bukan anjing, ia teramat sayang pada binatang yang tiba-tiba mengantarkan imajinasinya pada masa silam.

Ia kemudian menuturkan cerita pada anjingnya yang tak bernama.

 

 

Semasa usia belum genap dewasa, aku pernah mencari seperti ini. Pencarian yang tidak pernah terpahami karena apa, dengan apa, juga mungkin berhasil apa.

Kelak aku hanya tahu, pencarian itu bernama cinta. Bermakna bahagia.

Jatuh cinta memang sesederhana pencarian, jika ketemu akan menimbulkan kepuasan. Tapi perbedaannya, pencarian dalam cinta tidak selalu berakhir dengan penemuan meski kadang berwujud kesimpulan.

 

Aku jatuh cinta di sebuah tempat yang kini aku tinggali untuk meniti hidup, merangkai usia, menata peristiwa. Di tempat segala bermula dalam wujud yang berubah-ubah.

Aku jatuh cinta pada sebuah waktu yang terekam diam dalam detak bumi, dan tonggak tugu yang berangsur punah.

Aku jatuh cinta pada sebuah cuaca, yang mengganti angin menjadi hujan, kering menjadi kemarau. Di sela lapisan langit yang memberi alam segala tanda.

Aku jatuh cinta pada semua yang berubah laksana nyanyian yang didendangkan Tuhan dalam segala kitab suci-Nya.

 

Aku jatuh cinta pada satu nama, yang mengandung cita-cita dalam khusuk doa orangtua. Doa yang dilantunkan dalam setiap hembus nafas ikhlas bernama ibadah.

Di setiap senyum yang selalu terberi bagi semua, di setiap langkah yang beralamat pada keinginan, di setiap bahasa yang mengulum ketegaran cita-cita.

 

Jatuh cinta memang bukan perkara mudah, sebab ia tidak memiliki batasan usia. Juga tidak memiliki masa pudar kadaluarsa. Peristiwa ini aku alami sekitar 15 tahun yang lalu, ketika aku bertemu seorang yang dalam kacamata siapa saja selalu menyimpulkan pemahaman yang sama. Cantik, cerdas, dan untuk lebih melengkapi dia juga baik hati.

Sebagai seorang mahasisiwa rantau dia juga sama dengan yang lainnya, tinggal di sebuah rumah kos sederhana. Di sebuah lorong sempit di antara tumpukan bangunan yang serupa barak tentara. Kuliah, dalam keseharian ia jalani dengan penuh keseriusan. Sangat berbeda dengan aku, yang menganggap kuliah bukan lagi beban, akan tetapi petaka. Ia justru menjalani kuliah selayaknya seorang dahaga yang terus-menerus menimba. Pengetahuan, jika tidak ingin menyebutnya sebagai ilmu, telah ia tumpuk dalam batok kepala seperti menata rumus matematika. Sedangkan aku, seorang mahasiswa malas, yang hanya menumpuk ilusi. Menggebu, jika membahas imajinasi. Mengkerut, jika berhadapan dengan arti tanggungjawab. Dia juga seorang hamba yang taat akan segala perintah Tuhannya, aku dengan segala cara menyangkal keberadaan-Nya dengan otak yang diberikan oleh-Nya dengan cuma-cuma.

Dia, oh sungguh dia, adalah makhluk yang menjadi pembeda antara benar dan salah.

 

Begitu banyaknya perbedaan, yang bukan saja berbeda tetapi juga bertentangan. Seharusnya dia adalah teman dialog yang sangat membangun bagi penyempurnaan ide-ide. Akan tetapi, demi pengkhianatan pada hati kecilku, semua urung kulakukan. Aku tak sanggup berdialog dengannya, aku takut tidak mampu bersikap obyektif di hadapannya. Aku akan terlalu naif, berkata ya, hanya karena ia adalah ia. Bukan ia sebagai ide. Aku tidak mau kemudian terjebak ketika menghargainya hanya sebatas kekaguman pada benda. Aku memang sedang butuh sepasang mata bagi cinta yang buta.

Cinta yang buta, sebab ketika bertegur sapa dengannya aku merasa menjadi sempurna. Ketika awan menjadi gelap bukan payung yang aku siapkan. Justru rintik hujan yang aku sambut dengan basah kepala. Ketika matahari mendidihkan aspal jalan raya, bukan sepatu yang aku kenakan, justru telapak kaki yang aku persiapkan. Semua di hadapanku menjadi bersahabat. Kicau burung dan gugur daun dari ranting pohon adalah nyanyian merdu di sela senda tawa. Halilintar dan gemuruh kendaraan bisa berubah menjadi irama syahdu di gendang telinga. Entah, begitu bersamanya semua suara menjadi pelan tempo iramanya. Seolah waktu memperpanjang bingkainya.

 

Coba saja kawan, seandainya saja saat ini kamu ikut terlibat di dalamnya. Coba saja, lihat bening matanya. Bukankah itu adalah cermin gamblang tentang arti ketulusan? Sekali lagi, matanya. Di bening air danaunya semua dipantulkan, termasuk lemah rahasia yang kamu simpan di dasar kekaguman. Jangan beranjak ke yang lain. Aku tak mampu mendiskripsikannya untukmu, juga lembut pipinya. Sungguh aku tak sanggup. Jangan memaksa aku, sekali lagi aku tak mampu.

 

 

Oh mengapa musti ini terceritakan padanya, seekor anjing hitam. Berkeliaran sendiri, percayakah dia pada kepatuhannya yang luar biasa. Mengapa musti padanya rahasia ini dibagi. Tersampaikan bersamaan dengan sekawanan kupu dan burung yang hinggap diam mencuri dengar?

Anjing yang tak bernama itu kembali meninggikan daun telinga, seolah ada sesuatu yang ia dengar di luar kemampuan manusia. Mengendus prasangka. Sang Anjing membelalakkan mata menatap ia yang telah membidikkan kamera, dengan tangan yang memutar knop focus lensa. Sebuah bayang, ia rekam dengan tombol yang ditekan ujung jari telunjuknya. Bayang itu bayang hati.

Rupanya anjing tak bernama itu menangkap sebuah isyarat nyata, bahwa pencerita sedang berkecamuk gundah gulana. Kemudian ia menggonggong, seperti tidak mau terbebani oleh rahasia yang baru saja ia dengar dari sang pencerita, beranjak pergi.

 

Kolam renang kembali sepi.

 

 

 

 

cerita lama

August 21, 2008

“ Hanoman ”

 

 

Di telaga Samula, Dewi Retna Anjani menjalani pertapaannya. Tapa Nyantuka (tapa serupa katak) demi pencapaiannya pada Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (pencapaian inti hidup dengan pemasrahan diri pada kekuatan cinta). Tapa yang dijalani dengan duduk bersila, tidak makan apapun kecuali daun yang jatuh pada tubuhnya, tidak minum apapun kecuali air dan embun yang menetes di mulutnya (ini serupa dengan pertapaan Siddharta Gotama yang melarikan diri dari sukacita kerajaan untuk mencapai sang Buddha). Dipilihnya telaga Samula karena telaga ini adalah telaga yang terbentuk oleh pecahan Cupu Manik Astina yang dilempar ayahandanya untuk memecahkan pengkhianatan yang terjadi dalam keluarganya. Di tepi telaga Dewi Retna Anjani melepaskan semua atributnya, pakaiannya, keinginannya, nafsunya. Air telaga yang dingin melunturkan semua keinginannya. Katak-katak bernyanyi menghibur hari-hari Sang Dewi. Sebuah tapa yang berat dijalani dengan segala kepasrahan.

 

Pertapaan sang Dewi ini tak urung mengundang reaksi di atas kahayangan. Kahayangan goncang karena tekad makhluknya di bumi. Batara guru segera turun mengendarai Lembu Nandhini. Hatinya belas kasih melihat Anjani, dari belas kasih timbullah cinta. Tapi Batara Guru tidak ingin mengganggu pertapaan Anjani, ia hanya melihat dari balik pohon Jati Malela. Dilihatnya sang Dewi yang sedang terpekur dalam tapanya, sekuncup bunga dijepit dengan ibu jari dan lentik telunjuknya tepat diantara dua puting susunya. Di hatinya ketenangan itu diletakkan dengan kepasrahan. Satu tangannya membentuk sikap ayoga di paha kirinya.

 

“Kaulmu akan dikabulkan anakku, sudahi pertapaanmu, segala pintu langit telah terbuka untuk semua kehendakmu”, berkata Batara guru memecah keheningan lembah Samula.

Teguran Batara Guru tidak juga membangunkan tapa Sang Dewi.

 

Sudah beberapa hari dengan seksama dan penuh belas kasihan Batara Guru memandangi Dewi Rinjani. Rindangnya pepohonan dan sejuknya gemericik air di telaga tak juga mampu menyembunyikan kecantikannya. Sekali lagi Batara Guru mencoba membangunkan tapa Sang Dewi, dan juga tidak berhasil. Dengan sedikit menyibakkan rimbun ranting Batara mencoba mendekati pertapa. Diciumnya sebuah aroma kehendak, darah Batara Guru bergolak. Ular yang bersemayam di dalam benak Batara Guru menggeliat mewujud berahi, menuntut langkah mendekat. Langit tiba-tiba gelap, angin berhenti berhembus, hanya suara air mengucur deras, berderu. Sang Batara Guru memegang kayu jati erat, satu dahannya patah. Tanpa kendali tirta kamadanu mengalir menampar wajah sang pertapa.

 

Sang Dewi yang sedang bertapa menerima kucuran kamandanu ditelannya demi sang haus dari ujaran sebuah kaul. Alirannya melewati tenggorokan ditelan gelegak. Tapi yang dirasakan bukanlah rasa haus yang hilang. Seluruh tubuhnya tiba-tiba berkeringat, seolah air yang barusan diminum keluar bocor melalaui semua lubang tubuhnya. Dia menjadi basah. Dibukanya mata, tampak menggantung di depannya sebuah batang batang tabu dari Batara Guru, direngkuhnya.

“Aku haus Batara, bukankah ini buah yang terlarang”

Batara Guru tidak menjawab, kecuali angin yang keluar dari pintu langit yang tertutup. Matahari kembali padam, lembu Nandhini berontak, melompat kembali ke langit. Deru air bercampur angin menerbangkan segala, juga gunung. Pawai dan panji bertaburan turun ke bumi dengan gendering sunyi.

“Kamu jatuhkan dirimu dalam dosa Anjani…”, berkata demikian sang Batara sambil menjambak rambut Anjani, memindahkan pada posisi berdiri. Direngkuhnya tubuh Anjani dengan kasar hingga menabrak Batara Guru. Gemuruh dada dan berahi yang mengguncah membuat Anjani tak mampu berbuat apa-apa.

 

“Tapi, Batara Guru… bukankah?” Anjani mencoba menyela, sebuah penyangkalan hendak diajukan. Tidak sempat melanjutkan tiba-tiba batara guru sudah merebahkannya.

 

“Tirta suciku, kamadanu putihku, di dalamnya mengandung baja yang tak terkalahkan. Dan peristiwa yang kita susun ini adalah peristiwa penciptaan, berbahagilah ”.

Angin mengantarkan ombak di telaga sunyi. Riak dan hujan bersautan datang. Anak panah dan daun berganti rupa menjadi raksasa mengerikan. Sukma berbaur, jasad menghilang. Manusia kembali ke asal. Adam dan Hawa kembali saling menggoda.

Batara Surya menyembunyikan tejanya.

 

 

Telaga Samula kembali tenang. Riuh rendah telah berlalu, kesunyian menjadi teman. Kebisuan menjelma setiap malam. Bunga kembali merekahkan daunnya. Kuncup menghantarkan harum semerbak. Alam menyambut suka cita. Berita gembira menyebar laksana gulma di lembah dingin. Sang Dewi Retna Anjani berbadan dua. Anak yang dikandung buah pertapanya. Sang Batara telah kembali bersemayam di kahayangan. Bidadari berbondong turun telanjang menawarkan segala. Hitungan bulan memperlambat matahri berjalan pulang, hari-hari dijalani Anjani dengan hari penuh kasih. Pertapa dijalaninya dengan kidung dan senandung. Meski ia belum tahu serupa anaknya kelak, tapi yang jelas Anjani tahu pasti bayi yang dikandungnya bukanlah bayi biasa. Bayi yang disemaikan oleh dewa, bayi yang telah disemaikan dengan cinta.

 

Mingkar mingkuring ukara

Ukara marnan mardi siwi

Sinambung resmining kidung

Sinupa sinukarta….

 

Macapat dan langgam manghiasi telaga Samula. Burung mengepakkan sayap, mengundang angin semilir datang, daun melambai mengulum senyum pada sejuk yang dicipta. Megatruh mengalun bersanding dengan alunan gending yang ditawarkan alam dalam harmoni paginya.

Serupa seragam alam mengangguk setuju ketika sekawanan kupu membawa madu. Hinggap tepat di ujung indera perasa Anjani.

Dalam gelap malam, sebuah senandung rumeksa ing wengi mengantar Anjani dalam istirahnya, meski jasadnya sedang duduk bersila. Ia berpamitan pada alam, sejenak ditinggalkan dunia wadag. Langit menutup kedip mata Anjani serupa bintang menginjak pagi.

 

Dalam lelapnya langit tiba-tiba datang mendekat, seluruh isinya hamper tumpah ruah di kepalanya. Sebentuk bianglala turun perlahan menuju peraduannya. Sebuah kencana dengan delapan kuda melambai menyusuri jembatan cahaya, Batara Guru berdiri bersedekap tanpa perintah. Batara Guru turun dari kencananya. Mengusap buncit perut

Anjani. Berbisik ia berkata,

“Anjani, meski kamu bisa menolak titah ini, tetap saja aku sampaikan padamu, kelak buah badanmu bernama Anoman, sinom, sesuatu yang terus muda, sesuatu yang terus menuju kesempurnaan. Kesempurnaan memang tidak pernah berakhir. Tidak perlu kamu sesali semua yang terjadi Anjani. Kesempurnaan yang terhenti adalah kenyerian bagi semua. Alam tidak pernah berhenti menurunkan benih, sebab pohon tidak boleh ada dalam wujudnya yang tetap, ia harus terus berubah. Berubah menuju kehendak waktu, ia boleh menjadi kayu, daun, lalu batu. Bergembiralah dengan kelahirannya Anjani, biarlah segala bidadari di sini menemanimu”.

 

Anjani berkeringat, mata hati dan batinnya tiba-tiba gundah. Tidak terpungkiri kesendirian merawat kehamilannya kadang menimbulkan sesal telah berada di telaga sunyi ini. Kerinduan akan kedamaian selalu menuntutnya kembali menata bintang yang selalu dihitung dan ditebarkannya di luas langit. Kini ia tiba-tiba mengutuk dirinya. Bersimpuh memanggil Batara Guru, membuka diri dengan gapura sesal. Tidak ada kata lain kecuali sembah ampun terus ia ujarkan pada Sang Batara. Sembah ampun bagi orok yang ada di balik pintu goa garbanya.

 

Bidadari mendekat, mencoba mencari sebab mengapa murung hinggap di beranda wajah Sang Dewi. Didendangkan sebuah tembang. Burung dan kupu-kupu terbang mengitari telaga, kunang-kunang membagi cahayanya. Semua menari mengundang kulum senyum. Matahari dan rembulan berkejaran ingin berpelukan. Hingga tibalah hari sang Dewi menghadiahkan sembah pada dunia.

Di rindang asam, di bawah ranting yang berlebat daun Sang Dewi terlentang di tengah Bidadari dan penghuni hutan yang mengucap mantra pujian. Semua diam, semuanya mempersembahkan doa. Awan berkumpul menghadang cahaya matahari yang memang redup, angin berjalan pelan mengipasi panas cuaca. Embun yang terkumpul semalam menetes pelan dari setiap daun, mengusir keringat peluh yang berbintik di dahi Dewi.

Tidak ada riak di atas telaga. Tidak ada seringai di tengah belantara. Tiba-tiba Dewi Anjani menjerit penuh, dua tangannya mencengkeram kuat batu dan kayu. Suaranya melengking serupa sangkakala kemenangan sebuah peperangan. Nyawa diperjudikan demi kebahagiaan abadi. Buih dan peluh yang semula berbintik, kini meleleh deras seperti mata air yang merembes di tubuh lemah.

“Batara Guru, inikah keringat yang dulu kita persembahkan di indahnya senggama?”

Bidadari menangkap isyarat datangnya kebahagiaan. Seorang manusia lahir, tubuhnya masih berbalut kawah, berhias ari-ari. Lendir dan amis darah menjadi pakaiannya. Dengan seribu daun yang berembun para bidadari membersihkan sang jabang bayi. Putih, berjenis kelamin pria. Ia tidak menangis tidak pula menjerit. Bidadari mencubit pantatnya, sebagai sebuah perintah agar si jabang bayi menangis. Sebuah ekspresi tunggal yang harus dilakukan setiap manusia ketika masuk dalam dunia. Tidak ada pilihan lain. Seperti tiadanya pilihan tentang dari mana kita lahir, jenis kelamin yang kita miliki, juga siapa orangtua yang melahirkan kita. Kita tidak boleh untuk tidak menangis. Keharusan yang pertama kita terima sebagai bentuk kewajaran selanjutnya.

Dewi Anjani siuman dari peperangan yang dijalaninya. Telaga Sumala telah berubah menjadi Nirmala (danau yang bening airnya), seribu warna bunga selalu terhampar di atasnya. Buaya dan biawak menyingkir pergi memberi tempat bagi Sang Dewi mensucikan diri. Di kecipak air dan wangi kenanga mencuci tubuh Anjani. Menyingkirkan semua pedih dan lara, mendinginkan peluh dan menggantinya dengan hangatnya kebahagiaan. Dia telah merasa utuh. Seluruh keindahan yang pernah dituturkan sang jaman, kini ia lalui sudah.

Anoman tumbuh dengan kebahagiaan sempurna, memiliki ibu yang setiap hari mempersembahkan butiran kasihnya dalam dua puting susunya. Butir kasih yang setiap hari ia hisap laksana pancuran kendi melepas dahaga gembala. Butir kasih yang dititipkan takdir pada makhluk yang tidak pernah salah memilih cara menyayangi anaknya.  Bidadari dan merak mengajarinya banyak hal, tentang keindahan, tentang kebahagiaan. Singa Barong dan Gajah lelana mengajarkan kekuatan. Buaya dan ular melata mengajarkan keberanian. Anoman tidak pernah mengajukan tanya, mengapa kadang ditemuinya sang Bunda menyendiri sepi di kala senja tiba. Sebab yang ia tahu hanyalah ia harus tertawa oleh canda dan gurau teman-temannya. Setiap hari yang ia lakukan hanyalah melompat dari Astina hingga ujung bianglala. Hal ini membuat Bidadari yang bertugas menjaganya merasa kewalahan karena ulahnya. Tidak terlihat sedikitpun rasa takut ketika ia memanjat tingginya pohon di tebing telaga. Tubuhnya meliuk berpindah dari pohon satu ke pohon yang lain. Berayun ringan dari dahan ke tepi jurang. Tidak salah kalau kemudian Bidadari menyebutnya sebagai kera putih yang lincah. Sebuah julukan yang lahir dari gunjingan para bidadari yang lelah menjaga.

Hingga suatu hari di terang purnama. Telaga menghamparkan cermin raksasa yang memantulkan segala, juga bugil bulan yang menggantung di gelap langit. Sang Bunda merenung senyap, ketika Anoman memanggil teman-temannya memulai canda. Air mata menetes dari ekor mata Bunda Anjani. Bulat lonjong menggantung bening. Jatuh berdenting di permukaan air telaga, membentuk lingkaran berbagai rupa. Cermin yang memantulkan sinar bulan purnama bergoyang, meliuk pelan laksana tarian sukma.

“Ibunda mengapa di terang purnama seperti ini justru mendung yang Ibunda sandang? Bukankah di saat seperti ini kebahagiaan diturunkan bersama naiknya dinding air di dasar telaga? Apa yang menjadi sumber kesedihanmu Ibunda?”

“Anoman anakku, tidakkah kamu lihat bintang yang berserak di hamparan langit gelap itulah sumber gelisahku, sebab di antara bintang-bintang itulah Ayahandamu bersemayam. Ia yang duduk di singgasana hening kahayangan”. Berkata demikian Sang Dewi sambil kembali menambah setitik air pada cermin Samula dari ujung matanya yang basah.

“Ayahanda? dari diakah aku tercipta Ibunda, mengapa aku baru sekarang mendengarnya?” Anoman bertanya dengan keheranan yang menyerupai kuda yang kehilangan tanduknya di pagi hari dari bayang matahari.

“Iya anakku, Batara Guru namanya. Dari titah sucinyalah kamu ada. Buah dari tirta yang dititipkan dalam sepinya garba.”

“Di mana beliau bisa aku temui Ibundaku?”

“Carilah beliau di terang cahaya, berjalanlah ke barat di waktu pagi, ikuti kemana bayangmu pergi, kejarlah pantulan mentari dari tubuhmu. Berjalanlah ke barat sejauh dirimu bisa membelakangi matahari. Berhentilah jika bayangmu tertutup dirimu sendiri. Berhenti jika mentari tepat menaungi kepalamu. Sejenak sunggih matahari untuk kemudian berbalik arah.”

“Ibunda, di manakah sejatinya Ayahanda?” Anoman bertanya gelisah sebab perintah yang baru saja ia dengar terasa tidak ia pahami seluruhnya.

“Anoman, sejatinya Ayahandamu bersemayam di luas langit, di tumpukan bintang yang ia gunakan sebagai tahtanya.”

Tanpa pikir panjang, Anoman melompat masuk ke dasar telaga. Demi dilihatnya bayang langit sedang terpantul jelas di dalamnya. Lompatan Anoman ke telaga tak ayal membangunkan semua penghuni belantara. Buaya dan ular melata beringsut kaget menyadari rumahnya terkoyak.

“Batara Guru Ayahandaku, di mana engkau bisa aku temui sebab isi langit hanyalah lumut dan batu.” Diaduknya telaga Sumala hingga menjadi keruh. Dewi Anjani tersedu di pinggir petilasan pertapanya.

Anoman  tidak peduli, teriakannya menggema manatap dinding-dinding tebing, berkelok di sela daun dan dahan. Kelelawar dan burung hantu yang berjaga menghentikan kepak sayapnya. Sayup didengar rintih dari manusia yang kehilangan cerianya.

“Anoman kemarilah anakku, kembali dengarlah titah Ibundamu. Cari Ayahanda Batara Guru di siang hari. Saat bayang-bayang tercipta oleh terangnya Surya.”

“Mengapa hari musti mengenal siang dan malam Bunda? Mengapa semua harus berhenti? Bukankah akan lebih indah jika kita terus menerus berada pada terangnya siang?”

“Seperti juga diri kita, alam juga punya waktu lelah. Bentuk malam adalah tidurnya alam juga diri kita. Begitu juga bayang tubuh kita, tidak selamanya berada di belakang kita. Kadang di depan juga di samping. Itulah yang disebut keblat papat anakku?”

“Jadi matahari yang menuntun langkah kita melalui bayang yang terus ia cipta?”

“Iya anakku, di arah timur, yang bergunung welirang, pada padangnya yang tumbuhnya hanyalah kembang kemuning, berlaut madu, burungnya kepodang berdada kuning, besi dan tembaga menjadi senjata. Di sanalah kejayaan bersemayam.”

“Sedangkan anakku, barat lautnya adalah darah, bunganya ribang merah, bergunung api, hewan yang menghuni belantaranya adalah singa. Amarah menjadi raja di sana”.

“Kalau utara dan selatan, bagaimana keadaannya Ibunda?” Anoman menyimak dengan perhatian seksama.

“Di arah selatan, ada lautan susu menghampar lebar, gunungnya kapur, burung merpati dan bangau bersayap putih selalu mengitarinya. Kesucian menjadi penyanggah utama semua kehidupan yang ada di sana.”

“Berbeda selatan, berbeda pula utara. Sebuah arah dengan batu sebagai gunungnya, rawa-rawa menjadi lautnya. Malam menjelma tanpa beda. Hewan yang berjaga hanyalah kepak hitam burung bangkai. Keserakahan dan kedengkian bersemayam tanpa sebab.”

“Ibundaku, dari empat arah yang menjadi semayam semuanya, manakah yang harus aku pilih untuk bisa menemui Ayahandaku Batara Guru?”

“Engkau tidak harus memilihnya salah satu diantaranya. Pergilah kea rah di mana keblat itu kamu butuhkan. Sebab semuanya sejatinya ada dalam diri kita. Hanya kadang kita tidak berani mengakuinya. Semua arah bisa kita tuju dengan satu panduan yang kelak kamu akan tahu dengan sendirinya anakku.”

“Kalau begitu biar aku percepat pengetahuan itu dengan melenyapkan matahari Ibunda, biar tidak ada lagi bayang-bayang yang terus menuntunku. Biar semua arah bergabung satu dalam diriku Ibundaku.” Berkata demikian Anoman dengan geram dan melompat menjambak matahari yang menggantung lelah di ufuk cahaya.

“Jangan Anakku, jangan lakukan itu, sebab yang ada kemudian hanyalah amarah Sang Batara Surya. Alam akan mengutuk dirimu anakku. Keseimbangan akan punah bumi akan berlari menuju dasar kubah langit. Hanya kerusakan yang akan kamu cipta. Mohon jangan lakukan itu demi Ibundamu ini.” Bersimpuh Dewi Anjani di kaki Anoman yang meronta.

Keringat dan peluh sesal menetes dari setiap lubang tubuh Anoman. Kesejatian yang hendak ia raih ternyata tiada mendapat restu Ibundanya. Tiba-tiba segumpal awan mengantar cahaya di celahnya. Terang serupa matahari kembar ditemuinya. Silau matanya menatap kedatangan cahaya yang justru sejuk di hatinya. Sekejap ditutupnya mata, dan tatkala terbuka di depan Ibundanya yang bersimpuh berdiri seorang pria dengan wibawa luar biasa. Seluruh persendiannya tiba-tiba kuyuh, semua tulang tidak tersambung satu dengan yang lainnya. Anoman jatuh, seperti sulaman rotan yang terurai api. Bersimpuh juga ia.

“Dewi Anjani, sungguh telah luar biasa kamu purnakan tugasmu. Anoman telah kamu bawa dalam kesejatian yang tidak pernah mampu dijalani makhluk-makhluk lain yang ada di bumi. Denganmu keblat papat telah ia raih dengan sempurna. Kini saatnya ia harus melanjutkan dengan ke limanya. Lima pancer yang menjadi tujuan semua pejalan di bumi. Candradimuka adalah tempat baginya. Relakan ia sebab kemuliaan sedang disajikan padamu.”

“Batara Guru, bukankah ia masih harus menelan sejuknya susu? Kasih sayang yang mutlak menjadi haknya?”

“Dewi Anjani, aku permaklumkan kesedihanmu. Akan tetapi sekali lagi aku sampaikan terima kasih atas segala sengsara yang telah kamu sandang. Kini telah purna tugasmu, sempurna jasamu. Engkau tidak boleh larut dalam kesedihan, sebab sesaat setelah Anoman pergi ke Candradimuka Kahayangan, kamu akan juga tahu rahasia kesejatian bagi seorang Ibunda, berbanggalah sebab kelak ia di cerita selanjutnya akan menjadi penolong utama bagi Sang Shinta ketika dipenjara liciknya Rahwana. Hanya dialah yang sanggup membantu kegelisahan Sang Rama”. Berkata demikian sang Batara Guru mendekap Anoman tanpa sempat bertanya. Melompat ke tahta langit kahayanga.

 

Telaga Samula senyap, bidadari kembali pergi, Dewi Anjani kembali ke peraduannya di Alengka. Semua padam. Gending dan lampu berhenti bekerja. Matahari mengintip ufuk, mengantar fajar menjelma pagi.

 

Aku pergi menemui kegelisahan.

 

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.